Cerita Unik dan Menarik Saat Santri Dioprak-oprak Untuk Sholat Jama’ah





sumber gambar:Best Present


Tentunya setiap pondok pesantren mempunyai peraturan-peraturan, atau yang sering dinamakan qonun-qonun. Peraturan itu sendiri juga bertujuan menertibkan pondok pesantren. Selain itu juga untuk mencapai kemaslakhatan pondok pesantren.


Disamping qonun-qonun. Pondok pesantren juga musti memiliki kewajiban-kewajiban. Dimana kewajiban tersebut adalah suatu kegiatan atau program-program yang harus dijalankan dan direalisasikan masyarakat pondok pesantren.

Biasanya, bidang yang mengurusi dan yang menghendel qonun-qonun dan kewajiban adalah keamanan. Keamanan sendiri ditugaskan sebagai sector yang menertibkan dan sebagai pelaksana adanya qonun-qonun dan kewajiban. Tetapi apalah daya seorang santri adalah manusia biasa. Tetnunya dalam melaksanakan dan mematuhi peraturan serta kewajiban, belum 100% bisa dan patuh semua.

Tetapi berangkat dari situ, pondok pesantren justru dapat menghasilkan cerita-cerita unik dan menarik jika kita bahas kembali. Sepertihalnya cerita tiga seorang santri yang memiliki cerita yang lucu sekaligus unik dan menarik.

Sebut saja ketiga santri itu adalah Paino, Paimen, dan satunya Paijo. Mereka bertiga adalah tiga serangkai kawan yang susah dipisahkan didalam pondok pesantren. Selain itu mereka bertiga juga berasal dari daerah yang berbeda-beda. Paino sendiri berasal dari Kota Cilacap yang terkenal dengan Bahasa daerahnya. Yaitu Ngapak. Lalu, dengan Paimen adalah santri kelahiran asli Jawa Barat. Tepatnya kota Bandung. Dan Paijo adalah satu-satunya santri yang berasal dari Jawa Timur bagian timur. Ia besar dan lahir dari Kota Jember. Mereka bertiga satu asrama, dengan hidup yang sederhana tetapi mereka bahagia dan rukun.

Disuatu hari, Paino mengajak kedua tema raketnya Paimen dan Paijo untuk Ngopi diwarung pondok pesantren yang terletak tidak jauh dari asrama mereka. Kegiatan ngopi sendiri sering mereka lakukan. Tetapi, jika ngopi di warung pondok pesantren, mungkin satu bulan bisa dihitung. Maklumlah, mereka bertiga sama-sama berasal dari keluarga yang tidak mampu. Maka dari itu, Paijopun kaget saat diajak Paino untuk ngopi. Iantas iapun berkata pada Paino “Dengaren, No! (nama panggilan Paino) Ngejak ngopi di warung ?”.

Lalu, dengan senyum wibawa Paimenpun menjawab “Alah ! ayolah. Gie urusanya tresna nangaring (kepada ) kawan”
“Oh… begitu tho” Jawab Paimen. “Ya wes, tunggu apa lagi Men!” sambil menengok kearah Paimen yang duduk santai di depan pintu lemarinya.

Tak lama kemudia, mereka bertigapun keluar dari asrama. Dan berjalan bersama kea rah warung. Di tengah perjalanan. Paimenpun sempat menghentikan perjalanannya “Ih, serang sudah jam empat kurang lima menit. Entar kita kena marah saja oleh pak Habib” Kata paimen. Pak Habib sendiri adalah ketua keamanan dipondoknya. Wataknya yang kasar tapi mudah bergaul menyebabkan pak Habib disegani dan ditakuti oleh banyak santri.  “ Alah, Rika Tenang bae Men. Kan ada pahlawan kita” Jawab Paino. “Siapa ?” Tanya Paimen. “Itu” Sambil menunjuk Paijo “Mamas Paijo” Jawab Paino dengan cengingisan.

Meskipun jam hampir masuk waktu sholat asyar, merekapun tetap melanjutkan agendanya untuk ngopi. Taklama di perjalanan mereka akhirnya sampai di warung. Paijo dan paimen mencari tempat duduk yang pas, sedang Paino memesan tiga cangkir kopi dan satu bungkus rokok surya. Setelah pesanan jadi, Painonpun menyusul dengan membawa pesanannya dengan lengser berwarna hijau ke Paijo dan Paimen yang sudah menanti ditempat.

Setelah sampai lagi-lagi Paijo kaget dengan Paino
“Ih, kamu pesan Akeh Temen No!”
“Alah, santai. Aku wis seng bayar” Jawab paino sambil duduk.
“Ha,,, pasti kamu habis Kiriman ya?” Paimen juga ikut bertanya.
Dengan senyum bahagia Painopun menjawab “Alhamdulillah iya”.
“Pantes wae wajahmu ketok bahagia” Paijo menggerutu.
Wis-Wis, gie kopine ndang di sruput” Balas Paino.

Mereka bertigapun ngopi dan bercengkerama bersam di warung. Bercerita dan membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan agama dan kitab adalah menu pembicaraan yang sering ia bicarakan. Tak luput di warung saat itu juga. Tetapi, keramaian dan kebahagiaan cengkerama mereka bertiga lenyap ketika lantunan adzan dari mushola berbunyi. Tetapi, kopi-kopi yang mereka pesan belum habis setengah. Demi kopi dan Ngopi di warung yang jarang-jarang, mereka bertigapun bersepakat untuk mbolos jama’ah sholat asyar di mushola. Tetapi, penjaga warung yang juga santri menyuruh mereka untuk keluar dan sholat. Tetapi, suruhan penjaga warung tersebut sia-sia ketika Paino angkat bicara. Maklumlah, Paino adalah santri yang cerdas dan pintar. Ia sering mengikuti forum-forum bahtsu masail di dalam bahkan diluar pondoknya.

Tak lama kemudian. Yang mereka rasani dijalan tadipun datang dan masuk ke warung dengan membawa sorban hijau dan semprotan dengan gagah berdiri dan pandangan mata yang tajam. Siapa lagi kalau bukan Pak Habib Kepala keamanan. Sesuai dengan tugas Pak Habib, kegiatan ngopi Paimen cspun disuruh untuk bubar. Tetapi, ada sedikit perbincangan yang menarik disana. Paijo selaku yang tua diantara bertigapun angkat bicara. “Ngampuntene Pak. Bukannya tidak menghormati panjenengan. Tetapi, kami bertiga izin tidak berjamaah sholat dimushola”

Mendengar pembicaraan Paijo. Pak habibpun bertanya “Lha kenapa kok izin tidak jamaah?”
“Ngopi pak!” Jawab paijo.
“Ngopi !” Bentak pak Habib
“Iya pak. Memang kenapa pak. Tidak boleh ta”  jawab sekaligus Tanya Paijo denga  nada santai
“ Yha jelas nggak boleh lah. Ini kan sudah kewajiban pondok. Harus jamaah” jawab Pak Habib dengan nada tinggi.
Paimen dan paino Nampak ketakutan tanpa kata. Sedangkan Paijo masih bersi keras menjawab bentakan-bentakan Pak Habib.
“Lha Panjenengan kira kami bertiga nggak jamaah. Jelas-jelas jumlah kami tiga dalam satu majelis. Itu kan sudah jamak pak. Ini juga jamaah dalam ilmu nahwu pak” jawab Paijo dengan dahi mengkerut.
Mendengarkan jawaban dari paijo, pak habib hanya diam tanpa kata. Iya berpikir benar juga apa yang dikatakan oleh Paijo. Tapi, pak habib juga tidak kehabisan jawaban
“Ya, kan ini jamaah ngopi. Jamaah sholat maksudku. Wes, cepet dihabisin kopine. Gek jamaah ya” jawab pak Habib dengan membalikkan badan dan keluar dari warung. Sedangkan paijo dan kawan-kawan tetap meneruskan jamaah ngopi. Tetapi, bukan berarti ia harus meninggalkan jamaah sholat.[]

Share

Belum ada Komentar untuk "Cerita Unik dan Menarik Saat Santri Dioprak-oprak Untuk Sholat Jama’ah "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel