Sang Najma #1: Mimpi Yang Terkurung Kondisi






Sumber Image:wehearti editing: A. Khoirudin

Dikala surya membuka matanya dengan lebar. Ia selalu mengintip dan menyapa dunia dengan senyum cleret cahaya hangat dan membagikanya kepada alam dunia semesta. Namun, ketahuilah Tuhan itu Maha Kuasa, apapun bisa terjadi dan ter-realisasi di dunia ini. Dapat kita ketahui dengan kaca mata lebar, betapa kekuasaan sang kuasa menguasi kuasaan-Nya. Pagi yang menjajikan sunset   dengan sinar jingganya, terkadang harus berjubah hitam pekat menggelikat murung mendung. Setiap pagi yang terbiasa cerah dengan sinar jingga, terkadang harus menangis dengan rintik-rintik gerimis. Bahkan, bisa saja tangisan rintik itu menderas dan deras membasahi reranting pepohonan dan daratan muka bumi.




                        Seperti hari ini juga, murung mendung yang sejujurnya tidak diinginkan, terpaksa harus muncul dan menghias dengan gembolan  siap menerpa sahaja pagi. Tak lama, rintik-rintik gerimis perlahan turun-temurun. Waktu lama dan teurs berjalan nun berlalu. Namun, rerintik gerimis juga tidak kunjung menemui titik baru yang menerangkan. Bahkan, rerintik hujan tersebut semakin deras-menderas. Pagi itu tidak hanya hujan saja yang hadir. Hembus angin dingin juga menyertai dan membawa arah air hujan mendarat. Menciptakan rasa dingin yang menembus tulang belulang.

Sementara suasana pasar yang biasanya ramai tama penuh bising suara orang tawar-menawar beli-membeli. Dengan sekejap lenyap hilang, tergusur hening sepi nun sunyi. Satu persatu pedagang menutup warungnya. Sementara pembeli dengan sibuk dan kepontang-kepanting mencari perlindungan. Sebagian ada yang mengendarai motor dan pulang, pula ada yang bingung mencari tempat untuk perlindungan motornya.

Di halaman depan pasa, nampak seorang gadis berusia 19 tahuanan, sedang duduk dihalte pemberhetian bus antar kota. Jilbabnya yang basah menandakan dirinya baru saja terkena air hujan. Dan mungkin ia sejenak mencari pengayoman di halte bus dekat dengan pasar tersebut. Sementara dipangkuannya ada tas sekolah bertuliskan “Fila”   yang sekaligus dipeluknya untuk meminimalisir rasa dingin  yang menggigil.

Tapi, anehnya gadis tersebut terlihat cemas. Dan sesekali ia melihat jam yang menggelang dipergelangan tangannya. Dilihat dari gerak-gerik dan raut mukanya, ia tampak seseorang yang terburu-buru. Wajah oval dengan janggut yang lancip dari samping terlihat juga menengok kearah kanan dan kekiri. Semakin terlihat bingung. Tak tahu, mungkin ia sedang menunggu bus datang. Kecemasannya semakin terlihat ketika bus yang diinginkan kedatangannya tidak mau berhenti di halte tersebut. Padahal ia sudah berdiri dan  melambaikan tangan sebagai isyarat, mungkin saja bus tersebut sudah tidak muat lagi untuk menerima penumpang.

Ia kembali duduk dengan wajah lesu. Setelah ia duduk, tak lama kemudian datang seorang tukang becak yang bertanya pada gadis tersebut “Panjenengan  mau kemana Nduk?”   Tanya tukang becak dengan nada halus dan rendah. “ Mau ke Tulungagung pak” Jawab gadis dengan santun. “ Oh, mau ke Tulungagug tho. Memang ke Tulungagung mau kemana “ Tanya kembali tukang becak sembari duduk di kursi yang berjajar dengan gadis tersebut. “ Mau ke Lembu Peteng (Nama daerah yang terletak di kota Tulungagung)” “

“ Lembu peteng! Mau ngapain Nduk  kok ketok  cemas banget?”

Niku lho  pak, mau mengikuti tes wawancara. Tapi, kok bus-nya belum datang-datang” Jelas gadis malang tersebut.

lha  emange  jam berapa, mulai tes” Tanya tukang becak dengan dahi yang mengekerut.

“Jam 07:00 sudah sampai di tempat pak kalau di brosurnya”

Setelah berbincang dengan tukan becak yang dari tadi bertanya. Akhirnya bus yang diharapkanpun datang. Dan, ia pun tanpa membuang waktu langsung berpamitan dengan tukang becak tadi dan masuk kedalam bus. Tetapi, waktu terus berjalan, detik terus berlalu, menit demi menit terus menyita waktu. Sedangkan bus sendiri, juga mampir-mapir mengambil penumpang. Waktu yang tersitapun juga biasa dikalkulasi dan berjumlah banyak. Sungguh sangat disayangkan. Bagi, gadis malang tersebut, waktu adalah kesempatan. Dimana dirinya setelah berhenti ditujuan, dengan buru-buru dan jangkah kaki yang cepat menuju kearah kantor radio terdekat. Disana, terlihat ramai. Dan hujanpun juga sudah mereda. Ternyata disana mengadakan rekrutmen reporter radio yang diikuti 100 orang.

Sesampai di halaman kantor, dengan gerbang yang tertutup rapi di dalam terlihat dua satpam yang berjaga. Sementara gadis tersebut terus teriak dan meminta tolong untuk membukakan pintu gerbang yang tertutup.

“Mau ngapai mbak?” Tanya salah satu satpam tersebut.

“Ini mas, Saya peserta tes wawancara. Apakah masih di izinkan untuk mengikuti tes?”

“ Sebentar ya mbak saya tanyakan dulu kepada panitia” Jawab satpam tersebut dengan membalikkan badan dan masuk ke ruangan panitia penyelenggara tes.

Setelah, beberapa menit satpam menemui panitia, iapun kembali keluar dan menemui gadi yang tetap berdiri di halaman dengan gerbang yang masih tertutup.
“Bagaimana mas?” Tanya gadis tersebut dengan raut wajah berharap

“Maaf sekali, mbak. Nama embak  sudah dicoret oleh panitia dari daftar peserta. Dalam artian embak  sudah tidak biasa mengikuti tes wawancara kali ini” Jawab satpam tersebut dengan ragu-ragu dan tidak enak hati. Semetara gadis tersebut terlihat kecewa dengan kepala menengadah keatas “Mungkin dilain waktu emabak  biasa mengikuti lagi. Maaf sekali ya mbak” Tambah satpam tersebut untuk meredam kekecewaannya. Sementara gadis tersebut hanya menjawab rendah dan mukakecawa “iya mas”

Ia pun perlahan berjalan menjauh dengan kantor radio tersebut. Dengan seretan kaki putus asa dan kepala yang menengok ke bawah. Rasa kecewa, menyesal, kesal, dam putus asa bercampur aduk tertuang di raut wajahnya. Kantor radio tersebut sudah tidak terlihat dari jarak pandang gadis malang yang berjalan perlahan. Perutnya yang berbunyi kelaparan memaksa gadid tersebut harus mampir kewarung pecel yang berada dipinggir jalan.

Setelah memesan pecel dan teh hangat, iapun menjejalkan nasi di mulutnya dengan bibir kering dan pecah-pecah. Ia terlihat lelah dan letih. Tetapi, ia makan terlihat seperti orang yang tidak nafsu makan. Hari ini adalah hari dimana ia harus menelan  kenyataan pahit yang ia terima. Dan harus pulang kerumah dengan tangan kosong dan kabar yang tidak baik bagi keluarganya. Mungkin.[]


A. Khoirudin
Share

Belum ada Komentar untuk "Sang Najma #1: Mimpi Yang Terkurung Kondisi "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel