Cerita Senja Dari Masa Lalu (Amuk Kenangan Yang Tertinggal Zaman)




sumber gambar:pinterest




Begitu cepatnya tahun berganti. Sehingga umurpun tidak disadari sudah setua ini. Memang, ganasnya peradaban zaman. Lebih-lebih di era globalisasi ini, semua serba-serbi glamor nun canggih.



Saking canggihnya, semua dapat disediakan dan dinikmati dalam lima menit. Entah apapun itu. Mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan sampingan.


Tidak hanya itu, bahkan di era digitalisme ini, semua serba minimalis, serba simple, serba singkat, dan serba-serbi lainnya yang tidak terbatas. Tidak seperti dulu yang tersekat oleh ruang dan waktu. Sekarang, mau bertemu siapapun, dapat diakses kapanpun.


Mungkin, Yang sedang tidur dari masalalu mungkin kaget, dan terheran jika bangun hari ini. Bagaimana ia tidak kaget dan terheran.


Dulu mereka ketia ia, aku, kamu dan semua bermain uku lele dengan asiknya dan tawa ria bersama. Lebih asyiknya jika aku harus datang kerumahmu dan mengajakmu pergi bermain sepak bola di lapangan yang becek dan berlumpur.


Sebelum pergi bersamaku, tidak lupa kau berpamitan dengan ibumu dengan suara lantang “mak!! Aku dolan disek” . Ibumu yang sibuk didapur, lantas menjawab “neng endi le”  disaat ibumu menjawab sekaligus bertanya, engaku sudah tidak ada di rumah. Pasalnya, dirimu kabur denganku untuk bermain.


Dijalan kita menata setrategi untuk sepak bola hari ini. Kau dan aku akan menyerang. Aku kanan dan kamu di sisi kiri. Tapi, lihat sebentar gadis-gadis masalalu yang bermain dakon dengan asyiknya. Disana ada ibunya dua temanya dengan senyum-senyum manis. Mereka bahagia bersama.

Tidak jauh dari rumahnya, ada segerombolan bocah-bocah yang baru pulang sekolah dasar bermain kelereng . merekapun juga tidak kalah bahagia. Kesengitan terjadi disanan, adu mulutpun juga tidak dapat dicegah. Bahkan kadang kali harus baku hantam. Tapi, anehnya setelah mereka berkelahi mereka becanda nun tertawa lagi bersama.


Ah sudahlah, ayo berjalan lebih cepat lagi.  Pukul menunjukan angka dua siang. Dan disana terlihat anak-anak yangberpeci dan bersarungan, pula gadis-gadisnya yang berjilbab putih bersih berkibar dibawa angin siang. Ia sedang perjalanan menuju madrasah diniyyah. Sungguh terlihat lugu mereka.


Dengan rasa ingin berbaur mereka, mari mengikuti mereka. disana mereka yang berpeci belajar mengaji Al-qur’an. Ada yang masih Iqro’, ada juga yang hafalan ro’sun sirah, ngaqidatul awam, dan yang lainnya.

Sementara yang putri, ada juga yang belajar mengaji, juga ada yang praktek sholat, dan sama seperti yang putra, ada juga yang hafalan. Jam berlaju cepat, dan waktunya istirahat. Di jam istirahat madrasah diniyyah terasa ramai tamai.

Yang putra bermain betengan di pelataran madrasah. Mereka bermain dengan bahagia dan tertawa ria. Sedangkan yang putri bermain bekel dengan membentuk kelompok-kelompok permainan sendiri di teras-teras madrasah. Sungguh asyik dan indah menjadi mereka. Semoga kelak menjadi manusia soleh dan solekhah. Amin..


Lapangan sudah dekat. Tapi sebelumnya, di teras-teras perumahan warga terlihat emak-emak yang berkumpul. Entahlah mereka bercerita apa. Tapi, mereka damai tamai.


Dan akhirnya selama perjalanan, kami sudah sampai dilapangan. Wau, disana sudah ramai sekali. Tidak seperti pemain-pemain sebak bola lainya. Kami bermain tidak berseragam. Seragam kami ya baju dolan kami. Tapi, disini kami semua kawan tidak ada musuh adanya lawan sepak bola. Setelah itu kawan lagi.

Timpun sudah dibagi, dan pertandingan dimulai. Lapangan tanpa rumput selalu menemani kami setiap musim. Entah musim hujan maupun musim panas. Dan kali ini adalah musim penghujan. Beceknya lumpur menambah asyik permainan ini. Tidak hanya asyik, bahkan juga menarik. Kesengitan ada didalam lapangan becek tersebut.


Di sini tidak ada babak ke satu atau babak kedua. Kami terus bermain tidak mengenal lelah. Semakin asyik lagi ketika kedua tim saling adu serangan dengan sengit. Selain itu, kami juga saling lempar-melempar lumpur.


Uniknya permainan sepak bola di zaman kami tidak ada peluit panjang sebagai notifikasi berakhirnya pertandingan. Adanya suara beduk dan kenthongan dari masjid ditambah sinar kemuning senja yang semakin tergelincir, sebagai tanda peluit panjang dan berakhirnya pertandingan.


Disana terlihat bocah yang berlari terbirit-birit. Ternyata, ia ketakutan dengan ayahnya yang membawa pecut. Wajah garangnya menyeramkan dan bapaknyapun menyuruh kami untuk pulang.


Sepulang dari lapangan. Kami masih meneruskan cerita kebersamaan. Tepatnya kami berangkat bersama di masjid untuk ngaji kitab Al-Qur’an. Di masjid lebih ramai dibanding di lapangan tadi. Disana kami berkumpul belajar Al-Qur’an.


Sehabis ngaji, kami tidak langsung pulang. Kami menunggu sholat isya’ dan sholat dengan berjama’ah. Namun, sebelum itu, setelah kami selesai ngaji. Kami berkumpul bersama. Bercerita tentang kejadian tadi sore saat bermain bersama-sama. Canda, gurau, tawa selalu ada disela-sela sehabis ngaji. Pula disaat inilah kami merencanakan mainan apa yang kami besok jalani.


Itulah sedikit coretan dari cerita senja masalalu. Yang asyik, menyenangkan, bermain bersama kawan satu ruang dan satu lingkungan. Namun, sekarang Anda bisa melihat sendiri di zaman ini bagaimana mereka-mereka berubah.

Mereka bermain tidak lagi dilapangan. Melainkan di gadget dan smartphone mereka yang canggih. Mereka jika mengajakku bepergian tidak perlu datang kerumah, melainkan cukup sekai pencat langsung datang pesan singkat di aplikasi whatsaap dan yang lainnya. Mereka yang dulu malu, sekarang tidak lagi malu. Bahkan fotonya ia pajang ke Instagram, facebook dan mediasosial lainya.


Memang, itu semua serba cepat nun simple. Tapi tidak semesra dulu, dikala senja sore bercerita. Dan sekarang hanya menjadi masalalu.[]






Share

Belum ada Komentar untuk "Cerita Senja Dari Masa Lalu (Amuk Kenangan Yang Tertinggal Zaman)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel