Makanan Pokok Yang Berubah Dan Menjadi Belati


sumber gambar:pixabay


Di dunia ini, siapa yang tidak membutuhkan sesuatu. Entah apa itu bentuknya, rupanya, warnanya, rasanya, dan sebagainya tidak terbatas apapun. Yang bisa membatasi adalah manusia itu sendiri terhadap apa kebutuhannya.


Dalam ilmu IPS, Kita dapat mengenal beberapa kebutuhan manusia. Ada kebutuhan pokok yang berupa sandang, pangan, dan papan. Ada juga kebutuhan-kebutuhan lainya yang dibutuhkan, yang dipengaruhi oleh gaya hidup dan  lingkungan dimana seseorang berada.


Namun, keanehan justru terjadi dari pengaruh kebutuhan, ketika seseorang membutuhkan sesuatu yang menurutnya harus mengumbangi lawan dilingkungan hidupnya, dan kadang tidak tercapai. Kalau sekedar berkerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak apa-apa dan tidak terlihat aneh. Namun, jika bekerja demi kebutuhan tersebut hingga melupakan kewajibanya itu yang aneh.


Tidak hanya sekedar kerja saja, bahkan keadaan psikologis seseorang juga dipengaruhi oleh kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi, karena faktor gaya hidup dan lingkunganya. Seperti contoh kecil, Tidak mau berangkat kuliah kalau tidak memakai roda empat, karena mayoritas mahasiswa disana memakai roda empat ketika berangkat dan yang lainnya.


Dari situ, Kita dapat mengetahui betapa kebutuhan sangat berrpengaruh pada pola hidup dan pola pikir seseorang. Selain itu, kebutuhan pokok kadang sering kali dibuat sebagai ketergantunga manusia hidup. Dan pada era digitalisme ini banyak dan sering terjadi karena ketergantungan pada kebutuhan.



Hal tersebut dapat ditinjau dari seberapa tergantungnya manusia di era sekarang pada jaringan. Samapi-sampai rela melakukan apapun demi mendapatkan kebutuhan tersebut. Ditambah lagi di zaman sekarang, jaringan  seakan-akan menjadi makanan pokok sehari-hari yang harus ada. Seperti contoh ada yang rela utang-untang demi membeli paket data, ada yang harus membawakan hal yang nyeleneh yang disitu merugikan lainya demi ketenarannya disana, dan lain sebagainya.


Memang, jaringan itu penting sebagai media informasi dan sharing. Selain itu juga sebagai jembatan mengukuhkan persaudaraan. Namun, jika hal tersebut mempengaruhi dalam manusia bertingkah, berperilaku dan dapat menyebabkan kerugian hingga menerobos batas-batas norma nan undang-undang. Sungguh hal yang aneh kan?


Sejujurnya, yang dapat membuat hal positif dan negatif bukan dari sesuatu. Namun, siapa yang mengolah sesatu tersebut. Ibarat sampah, sampah merupakan hal yang hina di mata manusia pada umumnya. Namun, jika manusia tersebut kreatif maka sampah akan menjadi hal yang istimewa di mata siapa saja.


Itu semua, karena adanya pola pikir dan hasrat kemauan. Dari kebutuhan tadi, terkadang kita masih mempunyai rasa egoisme yang harus kita penuhi. Tetapi, jika terlalu nemen terhadap ke-ego-an tersebut, bisa fatal akibatnya. Seperti kebutuhan manusia terhadap jaringan tadi.


Banyak sudah yang terjadi, tidak perlu Saya sebutkan satu persatu, terlalu banyak. Lha, itu semua karena kebutuhan yang dapat merugikan Kita. Ibarat makan kalau terlalu kenyang juga tidak baikkan?


Jadi, kalau kebutuahan terlalu diagung-agungkan dan harus dipenuhi. Hingga kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita lakukan. Maka, seperti nasi yang berubah menjadi belati. Dan dalam waktu yang tidak dapat kita ketahui, kebutuhan tersebut dapat mencekik kita.



Share

Belum ada Komentar untuk "Makanan Pokok Yang Berubah Dan Menjadi Belati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel