QIRADH, RIBA DAN PINJAM MEMINJAM

QIRADH, RIBA DAN PINJAM MEMINJAM

QIRADH, RIBA DAN PINJAM MEMINJAM

 

Oleh:
Shofiatus Sholihah



BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan khususnya pendidikan agama islam senantiasa terus dikembangkan melalui pengkajian berbagai komponen pendidikan.

Perbaikan dan penyempurnaan kurikulum, bahan ajar manajemen pendidikan, proses belajar mengajar dan lain-lain sudah banyak dilakukan.

Tujuan utamanya adalah untuk memajukan pendidikan nasional dan meningkatkan hasil pendidikan, tidak terkecuali bidang pendidikan agama islam. Perbaikan dan penyempurnaan sistem pembelajaran merupakan upaya yang paling nyata dalam meningkatkan proses dan hasil belajar para siswa sebagai salah satu indikator kemajuan dan kualitas pendidikan.


Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar.

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses  yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar upaya tersebut diarahkan kepada kualitas pembelajaran sebagai sebuah proses yang diharapkan dapat menghasilkan kualitas hasil belajar siswa.

Maka degan ini kita akan membahas tentang Qirad, Riba dan Pinjam-meminjam.

Penulis sebelumnya minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun pembahasan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, karena penulis hanyalah manusia yang lemah.

Dan semoga makalah ini dapat diterima oleh dosen pengampu dan juga semua peserta diskusi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Riba

1. Pengertian Riba

Menurut bahasa, riba memiliki beberapa pengertian yaitu: 
a. Bertambah (الزيادة) karena salah satu riba adalah meminta tambahan dari suatu yang dihitungkan.
b. Berkembang, berbunga (النَّمُ), karena salah satu perbuatan riba adalah pembungakan harta uang atau yang lainnya yang dipinjamksn kepada orang lain.

C. Berlebihan atau mengelembung.

2. Macam-macam Riba

Menurut pendapat sebagian ulama’ riba itu adabeberapa macam:

a. Riba fadli ialah menukarkan dua barang sejenos dengan tidak sama.
b. Riba qardi ialah utang dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi utang.
c. Riba yad ialah berpisah dari tempat aqat sebelum timbang terima.
d. Riba nasa’ ialah disyaratkan salah satu dari kedua barang dipertukarkan ditagguhkan penyerahannya.

Sebagian ulama’ hanya membagi tiga macam saja, yaitu riba fadli, riba yad, riba nasa’, riba qardi termasuk dalam riba nasa’.

Dalam islam dikenal dua bentuk riba: berada dalam wilayah utang piutang yakni riba nasiah, dan yang satu lagi berada dalam wilayah jual beli yang disebut dengan riba fadhal. Penggunaaan kata pertama ialah  secara hakiki dan penggunaannya terhadap yang kedua adalah majazi. 

3. Hukum Riba

Adapun dasar haramnya riba nasiah adalah kuat dan tegas sekali baik dari al-qur’an hadis dan juga ijma’ dasar al-qur’an terdapat dalam beberapa ayat diantaranya adalah:

Firman Allah al-Baqarah ayat 275:

  أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمالرِّبَا

Artinya:Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Adapun dasar hadis Nabi begitu banyak, di antaranya adalah hadis dari Jabir menurut muslim dan juga diriwayatkan al-Bukhari yang berasal dari Abu Juhaifah;

لعن رسو اللّه صلى اللّه عليه وسلم اكل الربا وموكله وكتابه وشاهديه وقال هم سواء

Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang mewakilinya, penulisnya dan dua orang saksinya, Nabi berkata; “Mareka semua sama”.

Adapun dasar hukum dari haramnya riba fadhal memang tidak ditemukan secara khusus dalam al–Qur’an. Dasar hukumnya ditemukan dalam beberapa hadis nabi, diantaranya adalah dari Abu sa’id al – khudri menurut riwayat yang muttafaq ‘alaih.

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تبيوا اذهب بالذهب الاا مثلا بمثل ولا تشفوا بعضها على بعض ولا يتبعوا الوقار باالورق الا مثلا بمثل ولا تشفوا بعضها من بعض

Sesungguhnya Rasul Allah SAW. Telah berkata :”janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali bila sama ukuranya. Janganlah kamu melebihkan sebagian terhadap sebagian lain.

Janganlah kamu menjual uang kertas kecuali sama jumlahnya dan janganlah kamu lebihkan sebagian terhadap sebagian lain.

Begitu pula hadis Nabi yang lebih luas cakupanya dari ‘Ubadah bin Shamit menurut riwayat Muslim:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الذهب بالذهب والفضة بالفضة وا لبر با البر واالشعير باالشعير وا التمر با التمر وا لملح با لملح مثلا بمثل سواء بسواء يدا بيد فاذا اختلفت هذه الأصناف فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد

Rasul Allah SAW. Telah bersanda : “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama ukuran dan timbanganya dan tunai.

Bila jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu asalkan secara tunai”.
Walaupun keharaman riba fadhal dalam hadis tersebut diatas terbatas pada 6 jenis barang saja, namun dapat diperluas kepadasemua jenis barang yang dapat ditakar dengan timbangan dan takaran berdasarkan qiyas.
Alasan hukum dari riba ini adalah tidak sesuainya tindakan tersebut dengan prinsip Islam yang menyuruh umatnya untuk menolong sesama umat tanpa pamrih.

Tindakan ini pun hanya kesenangan dan kerelaan di satu pihak sedangkan Islam menghendaki kesenangan dan kerelaan timbal balik. Tindakan ini juga akan dapat merusak kehidupan orang yang terpaksa.

Demikianlah beberapa contoh bentuk muamalah dilarang oleh islam. Bila suatu transaksi sudah berlangsung sesuia dengan persyaratan tersebut di atas apa pun bentuk dan jenisnya dan tidak terdapat larangan yang jelas dari Nabi dan tidak menyalahi prinsip umum yang ditetapkan dalam al Quran, maka transaksi jual-beli tersebut adalah sah.

Jual-beli yang sah itu secara garis besar dapat dikelompokkan pada beberapa bentuk. Bila jual beli dilangsungkan menurut harga yang sudah ditentukan  atas dasar harga bebas pasar yang ditentulan oleh persediaan dan penawaran; tidak terkait pada harga pembelian semula disebut jual-beli musawamah.

Bentuk lain adalah harga jual-beli dikaitkan kepada harga pembelian setelah ditambahkan biaya pengangkutan dan penyimpanan. Bila harga jual disepakati melebihi harga beli dalam jumlah tertentu sebagai keuntungan, disebut dengan jual beli murahabah  Bila harga jual yang disepakati sama dengan harga beli sebelumnya, disebut tawliyah Bila harga jual beli disepakati adalah krang dari harga beli sebelumnya, dinamai jual beli wadhi’ah.

4. Hal-hal yang Menimbulkan Riba

Jika seseorang menjual benda yang mugkin mendatangkan riba menurut jenisnya seperti seorang menjual dari salah satu dari dua macam mata uang, yaitu mas dan perak atau sejeni makanan yang atau bahan makanan seperti beras, gabah dan gabah dan yang lainnya, maka di syaratkan:

a. Sama nilainya (tamasul)
b. Sama ukurannya menurut syara’ baik timbangannya, takarannya maupun ukurannya.
c. Sama-sama tunai (taqabuth)di majelis akad.

B. Mudharabah

1. Pengertian Mudharabah

Mudharabah adalah bahasa penduduk irak dan qiradh atau muqaharadhah bahasa penduduk Hijaz. Namun, pengertian qiradh dan mudhaharah adalah satu makna.

Mudharabah bersal dari kata al dharab, yang berarti secara harfiah adalah bepergian atau berjalan . Sebagaimana firman Allah:

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
Dan yang lainnya, bepergian di muka bumi mencari karunia Allah (AL-Muzamil: 20)

Selain al-dhrab, disebut juga qiradh yang berasal dari al-qrdhu, berarti al qath’u (potongan) karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian keuntungannya. Ada pula yang menyebut mudharabah atua qiradh dengan muamalah.

Jadi, menurut bahasa, mudharabah atau qirad berarti al – qath’u (potongan), berjalan, dan atau bepergian. 

Menurut istilah, mudharabah atau qiradh dikemukakan oleh ulama sebagai berikut: 
a. Menurut para fuqaha, mudharabah ialah akad antara dua pihak (orang) saling menanggung,salah satu pihak menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah ditentukan dengan keuntungan, seperti setengah atau seperiga dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
b. Menurut Hanafiyah, mudharabah adalah memandang tujuan dua pihak yang berakad yang berserikat dalam keuntungan (laba), karena harta diserahka kepada yang lain punya jasa mengelolah harta itu. Maka mudharabah ialah:

عَقْدٌ عَلَى الشِّرْكَةِ فِرّبْعِ بِمَالٍ مِنْ اَحَدٍ  الْجاَنِبَيْنِ وَعَمَلٍ مِنَ الأَخَرِ
               “akad syirkah dalam laba, satu pihak pemilik harta dan pihak lain pemilik jasa.”                                                       
c. Malikiyah berpendapat bahwa mudharabah ialah:

عُقْدُ تَوْ كِيْلِ صاَدَرَمِنْ رَبِّالْمَالِ لِغَيْرهِ عَلَى اَنْ يَتَّجِرَ بِخُصُوْصِ النَّقْدَيْنِ (الذّهَبِ وَ الْفِضَّةِ)
“akad perwakilan , dimana pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada yang lain untuk diperdagangkan dengan pembyaran yang ditentukan (mas dan perak)”

2. Rukun dan Syarat Mudharabah

Menurut ulama’ Syafi’iyah rukun-rukun qirad ada enam yaitu:

a. Pemilik barang yang menyerahkan barang-barangnya
b. Orang yang bekeja yaitu, orang yang mengolah barang yang diterima dari pemilik barang
c. Aqad mudharabah di lakukan oleh pemilik dengan pengolahan barang.
d. Mal, yaitu harta pokok atau modal.
e. Amal, yaitu pekerjaan pengelolaan harta sehingga menghasilkan laba.
f. Keuntungan.

Menurut Syyid Sabiq, rukun mudharabah adalah ijab dan qobul yang keluar dari orang yang memiliki keahlian. 

Syarat syarat sah mudharabah adaah sebagai berikut: 
a. Modal atau barang yang diserahkan itu berbentuk uang tunai. Apabila barang itu berbentuk mas atau perak batanga (tabar), mas hiasan atau barang dagangan lainnya, mudharabah tersebut batal.

b. Bagi orang yang melakukan akad disyaratkan mampu melakukan tasharruf, maka dibatalkan akad anak anakyang masih kecil, orang gila, dan orang orang yang dibawah pengampuan.

c. Modal harus diketahui dengan jelas agar dapat dibedakan antara modal yang diperdagangkan dengan laba atau keuntungan dari perdagangan tersebut yang akan dibagikan kepada du belah pihak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

d. Keuntungan yang akan menjadi pemilik pengelola dan pemilik modal harus jelas persentasinya, umpamanya setengah, sepertiga, atau seperempat.

e. Melafazkan ijab dari pemilik modal, misalnya aku serahkan uang ini kepadamu untuk dagang jika ada keuntunganakan dibagi dua dan kabul dari pengelola.

f. Mudharabah bersifat mutlak, pemilik modal tidak, mengikat pengelola harta untuk berdagang di negara tertentu, pada waktu-waktu tertentu, sementara di waktu lain tidak karena persyaratan yang mengikat sering menyimpan dari tujuan akad mudharabah yaitu keuntungan.

Bila dalam mudharabah ada persyaratan-persyaratan, maka mudharabah tersebut menjadi rusak (fasid) menurut pendapat al-Syafi’i dan malik. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Ahmad Ibnu Hanbal, mudharabah tersebut sah.

3. Hukum Mudharabah

Melakukan mudharabah atau qiradh adalah boleh (mubah). Dasar hukumnya ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib r.a, bahwasanya Rasulullah bersabda: 

ثَلاَثٌ فِيهِنَّ الْبَرَكَةُ الْبَيْعُإِإِلَى اَجَلٍ وَالْمُقَارَضَةُ وَخَلَطُ الْبُرِّ باِ الْشَعِيْر لِلبَيْتِ وَلاَ لِلبَيعِ

“ada tiga perkara yang diberkati : jual beli yang ditangguhkan, memberi modal dan mencampur gandum dengan jelai untuk keluarg, bukan untuk dijual “

Diriwayatkan dari Daruquthni bahwa Hakim Ibnu Hizam apabila memberikan modal kepada seseorang, dia mensyaratkan “harta jangan digunakan untuk membeli binatang jangan kamu bawa ke laut, dan jangan di bawa menyeberangi sungai, apabila kamu lakukan salah satu dari larangan larangan itu, maka kamu harus bertanggung jawab terhadap hartaku.”

Dalam al-Muwaththa’ Imam Malik, dari al A’la Ibn al-rahman Ibn Ya’qub, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ia pernah mengerjakan harta Utsman r.a sedangkan keuntunganya dibagi dua. 
Qiradh atau mudharabah menurut Ibn Hajar telah ada sejak zaman Rasulullah, beliau tahu dan mengakuinya, bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad telah melakukan qiradh, yaitu Muhammad mengadakan perjalanan ke Syam untuk menjual barang-barang milik Khadijah r.a..yang kemudian menjadi istri beliau.

C. Ariyah

1. Pengertian ‘Ariyah

Ariyyah atau ‘Ariyah diartikan dalam pengertian etimologi (lughat) dengan beberapa macam makna, yaitu:

a. Ariyah adalah nama untuk barang yang dipinjam oleh umat manusia secara bergiliran antara mereka. Perkataan itu diambil dari masdar at ta’wur dengan memakai artinya perkataan at tadaawul.
b. Ariyah adalah nama barang yang dituju oleh orang yang meminjam. Jadi perkataan itu diambil dari akar kata ‘arahu-ya’ruuhu-‘urwan.

c. Ariyah adalah nama barang yang pergi dan datang secara cepat. Diambil dari akar kata ‘aara yang artinya pergi dan datang dengan secara cepat.
     
2. Dasar Hukum ‘Ariyah

Adapun dasar hukum diperbolehkannya bahkan disunnahkannya ‘ariyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis sebagai berikut: 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah : 2)
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa : 58)
اَلْعَارِيَةَ مُؤَذَاةٌ 
“Barang peminjaman adalah benda yang wajib dikembalikan.” (H.R. Abu Daud)

مُطِلُّ الْغَنِّيِ ظُلْمٌ
 “Orang kaya yang memperlambat (melalaikan) kewajiban membayar utang adalah zalim (berbuat aniaya).” (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Macam-macam ‘Ariyah

Ditinjau dari kewenangannya, akad pinjaman meminjam (‘ariyah) pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam.

a. Ariyah muqayyadah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat terikat dengan batasan tertentu. Misalnya peminjaman barang yang dibatasi pada tempat dan jangaka waktu tertentu.

Dengan demikian, jika pemilik barang mensyaratkan pembatasan tersebut, berarti tidak ada pilihan lain bagi pihak peminjam kecuali mentaatinya. ‘Ariyah ini biasanya berlaku pada objek yang berharta, sehingga untuk mengadakan pinjam-meminjam memerlukan adanya syarat tertentu.

Pembatasan bisa tidak berlaku apabila menyebabkan musta’ir tidak dapat mengambil manfaat karena adanya syarat keterbatasan tersebut. Dengan demikian dibolehkan untuk melanggar batasan tersebut apabila terdapat kesulitan untuk memanfaatkannya.

Jika ada perbedaan pendapat antara mu’ir dan musta’ir tentang lamanya waktu meminjam, berat/nilai barang, tempat dan jenis barang maka pendapat yang harus dimenangkan adalah pendapat mu’ir karena dialah pemberi izin untuk mengambil manfaat barang pinjaman tersebut sesuai dengan keinginannya.

b. Ariyah mutlaqah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat tidak dibatasi. Melalui akad ‘ariyah ini, peminjam diberi kebebasan untuk memanfaatkan barang pinjaman, meskipun tanpa ada pembatasan tertentu dari pemiliknya.

Biasanya ketika ada pihak yang membutuhkan pinjaman, pemilik barang sama sekali tidak memberikan syarat tertentu terkait obyek yang akan dipinjamkan.

Contohnya seorang meminjamkan kendaraan, namun dalam akad tidak disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan tersebut, misalnya waktu dan tempat mengendarainya.

Namun demikian harus disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Tidak boleh menggunakan kendaraan tersebut siang malam tanpa henti. Jika penggunaannya tidak sesuai dengan kebiasaan dan barang pinjaman rusak maka mu’ir harus bertanggung jawab.

4. Rukun & Syarat  ‘Ariyah

Menurut Hanafiyah, rukun ‘ariyah adalah satu, yaitu ijab dan kabul, tidak wajib diucapkan, tetapi cukup dengan menyerahkan pemilik kepada peminjam barang yang dipinjam dan boleh hukum ijab kabul dengan ucapan.

Menurut Syafi’ah, rukun ‘ariyah adalah sebagai berikut:

a. Kalimat mengutangkan (lafazh), seperti seseorang berkata, “Saya utangkan benda ini kepada kamu” dan yang menerima berkata”Saya mengaku berutang benda anu kepada kamu.” Syarat bendanya adalah sama dengan syarat benda-benda dalam jual beli.

b. Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan Musta’ir yaitu orang menerima utang. Syarat bagi mu’ir adalah pemilik yang berhak menyerahkannya.

sedangkan syarat-syarat bagi mu’ir dan musta’ir adalah:

a. Baligh,  maka batal ‘ariyah yang dilakukan anak kecil.
b. Berakal, maka batal ‘ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang tidur dan orang gila.
c. Orang tersebut tida dimahjur (di bawah curatelle), maka tidak sah ‘ariyah yang dilakukan oleh orang berada di bawah perlindungan (curatelle), seperti pemboros.

d. Benda yang dipinjamkan. Pada rukun yang ketiga ini disyaratkan dua hal, yaitu,

a. Materi yang dipinjamkan dapat di manfaatkan, maka tidak sah ‘ariyah yang materi nya tidak dapat digunakan, seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpanan padi.

b. Pemanfaatan itu dibolehkan, maka batal ‘ariyah yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh Syara’, seperti meminjam benda-benda najis.

5. Meminjam Pinjaman dan Menyewakan
Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa pinjaman boleh meminjamkan benda-benda pinjaman kepada orang lain. Sekalipun pemiliknya belum mengizinkan jika penggunanya untuk hal-hal yang tidak berlainan dengan tujuan pemakaian pinjaman.

Menurut Mazhab Hanbali, peminjam boleh memanfaatkan barang pinjaman atau siapa saja yang menggantikan setatusnya selama peminjaman berlangsung, kecuali jika barang tersebut disewakan. Haram hukumnya menurut Hanbaliyah menyewakan barang pinjaman tanpa seiring pemilik barang. 

Jika peminjam suatu benda meminjamkan benda pinjaman tersebut kepada orang lain, kemudian rusak ditangan kedua, maka pemilik berhak meminta jaminan kepada salah seorang diantara keduanya. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik barang meminta jaminan kepada pihak kedua karena dialah yang memegang ketika barang itu rusak. 

6. Pembayaran Pinjaman

Setiap pinjaman wajib dibayar sehingga berdosalah orang yang tidak mau mengembalikan pinjaman, bahkan melalaikannya juga termasuk aniaya.  Perbuatan aniaya merupakan salah satu perbuatan dosa. Rasulallah Saw, bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيَّ ظُلْمٌ
 “Orang kaya yang melalaikan kewajiban membayar utang adalah aniaya” (Riwayat Bukhari dan Muaslim). 

Melebihkan bayaran dari sejumlah pinjaman diperbolehkan, asal saja kelebihan itu merupakan kemauan dari yang berutang semata. Hal ini menjadi nilai kebaikan bagi yang mengembalikan pinjaman.  Rasulallah Saw. Bersabda:

فَإِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ قَضَا ءً
 “sesungguhnya diantara orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebaik-baiknya dalam membayar utang” (Riwayat Bukhari dan Muslim) 

Rasulallah pernah meminjam  hewan, kemudian beliau membayar hewan itu dengan yang lebih besar dan tua umurnya dari hewan yang beliau pinjam.  Kemudian Rasul bersabda:

خِياَرُكُمْ أَحسَنُكُم قَضَا ءً 

 “ Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang dapat membayar utangnya dengan yang lebih baik” (Riwayat Ahmad).

Jika penambahan itu dikehendaki oleh orang yang berutang atau telah menjadi perjajian dalam akad berpiutang, maka tambahan itu tidak halal bagi yang berpiutang untuk mengambilnya.  Rasul bersabda:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةٍ فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوْ هِ الْرِّبا
 “ Tiap-tiap piutang yang mengambil manfaat, maka itu adalah salah satu cara dari sekian cara riba” ( Dikeluarkan oleh Baihaqi).


BAB III PENUTUP

A. Rangkuman

Menurut bahasa, riba memiliki pengertian yaitu Berlebihan atau mengelembung. Menurut pendapat sebagian ulama’ riba itu adabeberapa macam: Riba fadli, Riba qardi, Riba yad, Riba nasa’. Hal-hal yang Menimbulkan Riba:

Sama nilainya (tamasul),Sama ukurannya menurut syara’ baik timbangannya, takarannya maupun ukurannya, Sama-sama tunai (taqabuth)di majelis akad. Pengertian mudharabah menurut bahasa, mudharabah atau qirad berarti al-qath’u (potongan), berjalan, dan atau bepergian.

Melakukan mudharabah atau qiradh adalah boleh (mubah). Dasar hukumnya ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib r.a. pengertian ‘ariyah ‘Ariyah adalah nama barang yang pergi dan datang secara cepat.

Diambil dari akar kata ‘aara yang artinya pergi dan datang dengan secara cepat. Adapun dasar hukum diperbolehkannya bahkan disunnahkannya ‘ariyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis. Macam-macam ‘ariyah: ‘Ariyah muqayyadah, ’Ariyah mutlaqah, rukun ‘ariyah Kalimat mengutangkan, Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan Musta’ir yaitu orang menerima utang, Benda yang dipinjamkan.

B. Saran

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam makalah ini.

Berhubungan dengan makalah ini penulis banyak berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca khususnya pada penulis. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), 57.
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (bandung: Sinar Baru Algensindo Offeset, 2012), 290.
Amin Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqih, (Jakarta: Kencana, 2005), 209.
Abdul Rahman Ghazaly Dkk, FiqihMuamalah (Jakarta: Kencana, 2010), 247.
Share

Belum ada Komentar untuk "QIRADH, RIBA DAN PINJAM MEMINJAM"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel